Ceracau

Secercah Cahaya dari Kelas Antropologi

Secercah Cahaya dari Kelas Antropologi

Lukisan kedatangan Vasco da Gama di India (1497) karya Alfredo Roque Gameiro (Sumber: Pinterest).

Oleh : M. Ghithrof Danil Barr

PEMBACA yang budiman mungkin pernah mendengar atau bahkan menonton film-film petualangan seperti Pirates of the Caribbean dan Tarzan. Film-film itu barangkali sudah tidak asing lagi di telinga kita. Saya tidak menyangka, ternyata, bahwa film-film itu lahir dari tulisan-tulisan perjalanan para pelaut Eropa, yang kemudian berkembang menjadi disiplin ilmu antropologi. Fakta ini saya peroleh dari kelas mata kuliah antropologi, atau dalam kurikulum di tempat saya kuliah saat ini disebut ilmu budaya dasar.

Dari penjelasan dosen pengampu mata kuliah itu, saya menjadi sangat kagum dengan pelaut-pelaut Eropa masa lalu, yang tekun mencatat petualangannya saat menjelajahi dunia di luar Eropa. Menjelajah telah menjadi tren di kalangan masyarakat Eropa sejak abad ke-16. Tiap pelaut biasanya membawa serta seorang juru gambar dan juru tulis, yang bertugas mendokumentasikan setiap detail perjalanan. Catatan dan gambar yang dihasilkan menjadi saksi bisu dari penemuan-penemuan baru serta pengalaman yang mereka alami.

Di sepanjang perjalanan pulang, para pelaut itu kerap membawa berbagai benda unik dan berharga yang mereka peroleh dari daerah-daerah yang dikunjungi. Selain benda fisik, mereka juga kembali dengan catatan-catatan yang kaya akan pengalaman dan wawasan baru. Catatan itu tidak hanya menggambarkan keindahan tempat yang mereka dijelajahi, tetapi juga merekam interaksi mereka dengan budaya lokal.

Tak mengherankan jika pada abad ke-19 hingga 20, banyak negara Eropa berhasil menguasai wilayah-wilayah yang pernah mereka jelajahi. Pengetahuan yang mereka kumpulkan melalui ekspedisi menjadi landasan bagi kemajuan peradaban mereka, mendorong perkembangan ilmu pengetahuan, ekonomi, dan politik. Dengan begitu, jejak langkah para pelaut tidak hanya membentuk peta dunia, tetapi juga mengubah arah sejarah umat manusia. Walaupun nantinya ilmu Antropologi ini akan disalahgunakan untuk keperluan kolonialisme, setidaknya ada hal yang bisa kita petik sebagai pelajaran: tingginya rasa ingin tahu (curiosity) terhadap ilmu pengetahuan dan kuatnya budaya menulis.

Jika kita menilik sejarah, slogan “aku berpikir, maka aku ada” yang dicetuskan oleh filsuf Prancis, Rene Descartes, menggetarkan cara berpikir orang-orang Eropa saat itu untuk senantiasa meragukan dan menggali banyak hal tentang ilmu pengetahuan. Itulah yang kemudian membawa Eropa pada abad Aufklärung, atau yang kita kenal sebagai Abad Pencerahan. Pada masa pencerahan, Eropa mengalami perkembangan ilmu pengetahuan yang sangat pesat. Dogma-dogma gereja yang saat itu menghambat kemajuan sains lambat laun semakin ditinggalkan.

Ada satu cerita menarik yang pernah disampaikan dosen saya di kelas. Ia menceritakan seorang mahasiswa Indonesia yang menempuh pendidikan di Belanda. Mahasiswa itu memiliki keinginan kuat untuk meneliti sejarah Indonesia melalui arsip-arsip dan dokumen-dokumen yang tersimpan di sana. Ketika mulai menjelajahi koleksi arsip itu, ia sangat terkejut. Ia mendapati bahwa detail-detail yang tercatat dalam arsip Belanda sangatlah lengkap. 

Mereka tidak hanya mendokumentasikan peristiwa-peristiwa besar, tetapi juga mencatat hal-hal yang tampaknya sepele, seperti nomor lambung kapal-kapal yang melintas di Pelabuhan Juwana, Pati. Setiap catatan disusun dengan rapi, menunjukkan betapa telitinya mereka dalam mendokumentasikan sejarah bangsa yang pernah mereka jelajahi.

Menariknya, catatan sejarah yang terekam dalam arsip-arsip ini jauh lebih lengkap dibandingkan sumber-sumber sejarah lokal di Indonesia. Ini menunjukkan betapa pentingnya budaya menulis bagi keberlangsungan ilmu pengetahuan dan, tentunya, menjadi pijakan untuk menatap masa depan yang lebih baik. Antropologi juga membuka mata saya akan komunitas-komunitas di sekitar kita yang terabaikan dan termarginalkan. Kesadaran ini tentunya membuat saya lebih bijak dan berusaha menjadi manusia yang memanusiakan manusia.

Saya rasa, ilmu pengantar mengenai antropologi yang disampaikan oleh dosen saya bagaikan secercah “cahaya” yang akan menjadi penerang bagi saya dalam memperdalam antropologi. Namun, mempelajari ilmu-ilmu lain juga tidak kalah penting. Pada hakikatnya, belajar tidak mengenal kata terlambat. Selama kita tidak menutup rasa keingintahuan, kita akan terus senantiasa belajar. Tentunya, menjadi pelajar sepanjang hayat adalah cita-cita yang patut kita jalani.

Tinggalkan Balasan

Alamat email Anda tidak akan dipublikasikan. Ruas yang wajib ditandai *